YEPE

Tim Pendaki Gunung dan Penjelajah Alam


Tinggalkan komentar

Swara Andar Nyawa: Paduan Melodi Para Penjelajah

Swara Andar Nyawa (SAN) adalah grup band akustik dari YEPE. Grup ini terbentuk setelah beberapa anggota YEPE mengikuti workshop musik selama seminggu di sekretariat Metro 15 medio Oktober 2013 lalu yang diparkarsai oleh De Bambang Tondo (YP-239-KR). Terbentuknya SAN juga tak lepas dari sejarah awal terbentuknya Korsik YEPE beberapa tahun yang lalu yang dibimbing oleh De Andik Suwek (Blue Grass) dan De Heroe Soeprapto (YP-001-P).

Personil dari SAN saat ini adalah Fachry Prasetya (YP-269-MA) sebagai group leader dan guitarist, Loemongga (Angmud) sebagai lead vocal, Silka Abyadati (YP-242-BA) sebagai vocal dan violist, Bagas Jiwandas W. (YP-274-MA) sebagai keyboardist, Taufani T. Prayogo (Angmud) sebagai bassist dan Ghulam Al Aufa (YP-270-MA) sebagai Cajonist.

DSC00563

 

Penampilan SAN yang perdana adalah saat menghadiri undangan untuk tampil di malam santai event TNBTS Ultra 100 2013 di Lava View Lodge, Bromo. Setelah itu, SAN mulai mengikuti lomba band akustik di Teras Pelangi Cafe. Tanpa diduga, band yang baru saja dibentuk ini mendapatkan posisi runner-up sebagai the best band performance. Setelah itu, beberapa tawaran untuk tampil di beberapa kafe mulai berdatangan. Yang terakhir adalah di Mbambes Camp of Coffee and Tattoo sebagai salah satu partisipan di event “Coffecoustic”.

Genre yang SAN bawakan paling umum adalah lagu-lagu country dan rock ‘n roll. Namun, SAN juga membawakan lagu-lagu pop lawas macam lagu dari Chrisye dan beberapa musisi lawas yang lain. Dengan alat yang cukup memadai, SAN terus berusaha meningkatkan skill bermain musiknya dan terus menambah perbendaharaan lagunya. Siapa tahu, kedepannya SAN bisa membuat lagunya sendiri.

Sejauh ini, respon dari audience cukup apresiatif. Dukungan terbesar datang dari anggota YEPE, terutama dari para anggota senior yang selalu hadir setiap SAN tampil. Sesuai dari makna filosofi dari SAN sendiri, yakni tumbuhan yang tegar dan bertahan di ketinggian gunung, diharapkan SAN melalui musiknya bisa mewakili semangat YEPE yang akan selalu bertahan dan memperjuangkan cita-cita organisasi meski dalam terjangan badai.


2 Komentar

Sandal dan Sepatu Jelas Beda!

Kegiatan penjelajahan alam dari tahun ke tahun semakin meningkat, terutama untuk pendakian gunung. Hal ini sudah pasti memunculkan banyak sekali pendaki-pendaki baru, mulai dari anak kecil sampai yang sudah berumur setengah abad lebih, sepertinya semakin menikmati kegiatan ini. Apalagi, sekarang banyak sekali dijual dan disewakan alat-alat pendakian dan penjelajahan yang modern, canggih, dan pasti lebih nyaman dipakai, dibandingkan dengan perlengkapan 10 tahun yang lalu. Namun, ada satu hal selalu diabaikan oleh para pelaku jelajah baru-baru ini, yakni terkait dengan safety atau keselamatan. Salah satunya, masih banyak ditemukan di lapangan ketika para pendaki mempercayakan “sandal gunung” sebagai alas kaki mereka saat berjalan.

Di toko-toko outdoor yang semakin banyak bertebaran, pasti menjual yang namanya sandal gunung. Dengan desain yang sangat sederhana, sandal ini terkesan sangat berguna, awet, dan siap melintasi medan apapun karena didukung dengan desain sol/bawahan yang “adventurable”. Nah, pemahaman ini yang menurut saya menjadi salah kaprah. Dengan dalih lebih simple, enteng dan yang pasti lebih murah dibandingkan dengan sepatu standar pendakian, akhirnya sandal ini dianggap menjadi sandal yang bisa digunakan unutk perjalanan di gunung. Padahal bukan seperti itu peruntukannya.

Sandal jenis ini memang cocok untuk kontur tanah yang licin dan berbatu, bisa tahan air dan mudah dibersihkan. Namun, sejatinya, sandal ini diperuntukkan hanya ketika kita berada dalam lingkungan yang tidak terlalu ekstrem, di pantai misalnya atau ditempat terbuka dengan tingkat bahaya yang minim. Sandal jenis ini sangat tidak direkomendasi untuk trek tanjakan apalagi untuk perjalanan yang jauh dengan variasi trek yang berbeda-beda. Berbeda jauh dengan sepatu, sandal tidak bisa melindungi anda ketika ada kerikil kecil dan tajam yang biasanya sering terselip di telapak kaki anda. Pasti hal itu terjadi di medan yang berbatu. Belum lagi, ketika melintasi trek yang banyak semak disepanjang jalan. Banyak ranting yang sewaktu-waktu dalam posisi siap menusuk kaki anda sari samping maupun depan. Saya sendiri sangat tidak merasa nyaman dengan sandal macam ini ketika berjalan jauh di hutan, apalagi ketika hujan atau berdebu. Licin ketika hujan, risih ketika berdebu.

Lalu kenapa tetap bersikukuh menggunakan sandal daripada sepatu saat pendakian? Alasan karena sepatu lebih berat dan capek kalau dipakai, katanya. Lalu, ada juga yang beralasan sepatu masih terlampau mahal. Apakah hanya dengan alasan itu faktor keselamatan tetap diindahkan? Jadi, keselamatan bahkan nyawa bukan prioritas utama, dong? Karena hanya ingin mencapai yang namanya kepuasan batin, belum lagi adanya mental “sok pendaki” nya yang keluar. Justru, menurut saya, semakin ahli dan berpengalaman pendaki itu, maka dia akan semakin sadar dengan faktor safety.

Sekarang, banyak sekali jenis sepatu kategori sepatu gunung dengan berbagai macam desain dan harga. Sepatu dengan harga murah bukan berarti murahan. Sudah banyak produk lokal yang bisa diandalkan. Yang penting bisa melindungi kaki anda dari bahaya yang ada di perjalanan. Pilih sepatu yang sampai menutupi mata kaki anda agar bisa meredam sendi anda saat terkilir. Sebagai tambahan informasi, sepatu trail running sama sekali berbeda peruntukannya, sepatu ini bukan untuk pendakian gunung. Bahkan jika memang budget sangat minim, sepatu tentara yang dijual di pasar bisa jadi pilihan yang terbaik. Yang penting saat memilih sepatu adalah, pastikan nyaman di kaki. Beri satu nomor lebih untuk sepatu anda. Saat sudah dibeli dan bersiap untuk untuk digunakan naik gunung, berikan kaki dan sepatu waktu untuk saling menyesuaikan paling tidak tiga hari penggunaan sebelum pendakian dimulai. Jahit ulang sisi-sisi sepatu yang tersambung dengan sol agar lebih awet sebelum dipakai mendaki. Ingat, sepatu macam ini bukan hanya untuk bergaya atau sok-sok an. Tapi ini adalah demi keselamatan jiwa para pendaki juga. Bukan hanya anda yang sayang dengan nyawa anda, namun juga keluarga, teman, kekasih dan orang dekat anda juga menyayangi keselamatan dan nyawa anda para pendaki dan penjelajah.

Be the real adventurer, be the first in safety…


Tinggalkan komentar

OPEN RECRUITMENT ANGKATAN BATRA XXVII

BATRASSS

Tim Pendaki Gunung dan Penjelajah Alam YEPE Membuka pendaftaran bagi para calon peserta Basic Training XXVII.

Syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Sehat Jasmani dan rohani.

2. Mengisi Formulir pendaftaran, dapat diunduh disini

3. Formulir yang telah diisi dapat dikirimkan ke email informasibatra@gmail.comatau

dicetak berwarna, diisi (manual), kemudian diserahkan ke sekretariat YEPE Jalan Metro no. 15 Bunulrejo Malang (belakang SMPN 20 Malang)

sampai  tanggal 19 Oktober 2013.

CP:  0877 5573 7750 (Falah) | 0857 4692 5354 (Anik) | 0857 5570 2007 (Adit) | 0856 4970 7746 (Ririn)


Tinggalkan komentar

Perempuan Mendaki Gunung, Siapa Takut?!!

Gunung, adalah salah satu bentukan alam ciptaan Tuhan yang memiliki ketinggian di luar kebiasaan daratan datar lainnya. Minoritas orang hidup dan tinggal di Gunung, itu pun hanya di ketinggian tertentu. Bisa membayangkan gunung yang memiliki ketinggian 3000 meter di atas permukaan air laut? Hanya 3 kilometer saja sebenarnya, tapi karena angka tersebut terukur secara vertikal, gunung pun membutuhkan waktu yang tidak cepat untuk pencapaian puncaknya. Suatu proses pendakian diperlukan untuk menikmati hamparan laut awan dari puncak gunung.

 

Mendaki gunung merupakan salah satu olahraga yang berkaitan denan ketahanan fisik. Selain itu, hiking juga merupakan kegiatan olahrasa dan olahjiwa, dimana mental serta perasaan hati sama-sama bermain dalam olahraga mendaki gunung. Segala perlengakapan untuk olahraga ini ter-packing dalam tas ransel raksasa yang berjuluk carrier, Sang Pembawa. Tak jarang, karena harus menggendong tas ‘kulkas’, olahraga ini pun lebih diminati oleh kaum Adam yang lebih identik dengan fisik yang lebih kuat.

 

Namun siapa sangka, bila kaum Hawa pun juga bisa menjadi pelaku olahraga ini. Tidak perlu takut lelah dan capek, asal diawali dengan niat dan keinginan untuk belajar, perempuan pun bisa mendaki gunung. Terlahir sebagai perempuan, penulis pun menyadari ada beberapa momen yang hanya dialami perempuan saat mendaki gunung. Bagi penulis, mendaki gunung bukanlah kegiatan yang hanya melelahkan fisik, tetapi juga memuaskan jiwa.

 

Kegiatan mendaki gunung adalah sebuah proses pembelajaran dalam meraih kesuksesan. Sukses di sini, bisa dianalogikan, ketika mencapai puncak gunung. Dalam proses pencapaiannya, banyak terdapat tantangan yang langsung datang dari alam. Perasaan hati pun tidak selalu senang, ketika letih datang, mental pun tak jarang mulai goyah. Namun dibilang sudah terlanjur tercebur, maka lebih baik terus naik daripada harus turun lagi, kecuali bila memang kondisi yang benar-benar tidak memungkinkan.

 

 

Perempuan dengan kegiatan mendaki gunungnya, memang memerlukan perhatian khusus. Dalam hal ini bukan berarti diperhatikan oleh orang lain, tetapi perempuan itu sendirilah yang harus memperhatikan dirinya. Saat mendapatkan siklus bulanan, kebersihan miss V wajib hukumnya untuk dijaga. “Janganlah mendaki gunung saat menstruasi!”, mungkin himbauan ini benar adanya. Namun siapa sangka bila perempuan mendapatkannya saat proses pendakian berlangsung?! Who Knows? Tidak ada yang tahu. Yang harus dilakukan adalah solusi untuk menghadapinya, paling tidak sedia selalu tissue basah untuk membersihkan are miss V dan kresek hitam untuk pembungkus pembalut. Dan tetap berpegang teguh pada prinsip pendaki yaitu: jangan tinggalkan apapun di gunung kecuali tapak kaki. Jadi, sampah tissue dan pembalut pun harus ‘diamankan’ sendiri dengan membungkusnya rapat-rapat dan dibawa sampai kembali pulang.

 

Bagi mereka yang berkrudung/ penutup kepala muslimah, mendaki gunung bukanlah merupakan olahraga di luar kebiasaan. Hal ini sudah menjadi trend, bahkan perempuan yang memakai rok saja bisa sampai ke Puncak Semeru yang berpasir aduhai. Kerudung sebagai penutup kepala memiliki fungsi ganda sebagai pelindung sinar matahari, ini yang dirasakan oleh penulis. Namun pemakaian kerudung ini juga bisa mendatangkan efek negatif bagi kulit kepala jika tidak mendapatkan perawatan yang benar. Bagaimanapun, bagi perempuan yang berkerudung, sebaiknya mengusahakan untuk melepas kerudung dan mengangin-anginkan rambut di dalam tenda saat beristirahat. Atau di tempat lain yang tidak terlihat oleh lawan jenis. Hal ini penting untuk kulit kepala agar tidak gatal oleh keringat yang tidak bisa menguap.

 

Poin selanjutnya yang berkenaan dengan perempuan saat mendaki gunung adalah masalah asap dapur. Saat berkegiatan di ‘darat’, perempuan memang identik dengan seksi konsumsi. Di gunung pun, saat pendakian bersama, secara tidak langsung perempuan juga mendapatkan tanggung jawab untuk urusan kebutuhan perut. Laki-laki memang lebih identik dengan kegiatan fisik seperti mendirikan tenda ataupun membawa carrier paling berat. Meski pada akhirnya semua pekerjaan itu dikerjakan secara bersama-sama, tidak bisa dipungkiri bahwa persiapan konsumsi memang harus disiapkan secara matang oleh perempuan. Hitung-hitung belajar jadi ibu rumah tangga. Peace!

 

Itulah perempuan dan pendakian gunung. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini kecuali ketidakmungkinan itu sendiri.

Save Mountain and The Earth!

 

 

With love,

SA


Tinggalkan komentar

PERNYATAAN ORGANISASI Tentang PLAKAT PERNIKAHAN di Puncak Mahameru

PERNYATAAN ORGANISASI
YEPE
Tim Pendaki Gunung dan Penjelajah Alam

Dengan ini, Kami selaku Badan Pengurus Harian YEPE-Tim Pendaki Gunung dan Penjelajah Alam, menyatakan Permohonan Maaf atas PLAKAT PERNIKAHAN yang tidak seharusnya berada di Puncak Semeru yang telah menimbulkan gejolak sosial di kalangan penggiat alam di Malang Raya.

Kami sadari bahwa kami adalah bagian dari komunitas penggiat alam di Malang Raya dan kami ingin tetap menjaga hubungan baik ini.

Malang, 5 September 2012
Tertanda
BPH YEPE 2011/2013


2 Komentar

Kompor Kita

Memasak di alam terbuka

Kompor pendaki ada bermacam-macam. Mulai kompor lapangan berbahan bakar parafin (yang hukumnya wajib bagi siswa BATRA), kompor pompa (minyak tanah- yang kini sudah langka, atau Primus berbahan bakar bensin), kompor gas portable, hingga Trangia- yang merupakan kompor favorit pendaki masa kini. Dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing, jenis manapun yang dibawa- kompor adalah perlengkapan yang memang ‘wajib’ dibawa, terutama untuk pendakian-pendakian yang berdurasi lebih dari satu hari (harus bermalam).

Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.